Skip to content


Menyoal Penanganan Pencemaran Laut di Indonesia

 

Kita kembali menyaksikan kejadian yang menambah panjang daftar kecelakaan kapal di Tanah Air dengan terbaliknya kapal tanker MT Kharisma Selatan di Dermaga Mirah, Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, beberapa waktu lalu. Jika pada kecelakaan-kecelakaan sebelumnya manusia menjadi yang menjadi korban utamanya, kini lingkunganlah yang merana. Namun, dalam setiap kecelakaan laut yang terjadi baik manusia maupun lingkungan sebetulnya sama-sama menderita. Manusia kehilangan nyawa sementara lingkungan tercemari oleh bahan bakar yang bocor dari bangkai kapal. MT Kharisma Selatan telah menumpahkan 500 kiloliter MFO (marine fuel oil) dan pihak-pihak terkait sudah mencoba menanganinya agar tidak menyebar lebih luas lagi. Tapi, apakah semua yang telah dilakukan itu sudah tepat?

Beberapa kasus tumpahan minyak di Indonesia

Pencemaran lingkungan oleh tumpahan minyak kapal bukan hal baru di Indonesia. Sebelum MT Kharisma Selatan beberapa kasus tumpahan minyak juga telah terjadi. Setidaknya telah terjadi sembilan kali kasus tumpahan minyak di Indonesia sejak 1975. Tanker Showa Maru, karam di Selat Malaka tahun 1975, menumpahkan 1 juta ton minyak mentah; Choya Maru, karam di Bulebag, Bali (1975), menumpahkan 300 ton bensin; Golden Win, bocor di Lhokseumawe, NAD (1979), menumpahkan 1.500 kiloliter minyak tanah. Kemudian, Nagasaki Spirit, karam di Selat Malaka (1992), menumpahkan minyak mentah; Maersk Navigator, karam di Selat Malaka (1993), menumpahkan minyak mentah; Bandar Ayu, karam di Pelabuhan Cilacap (1994), menumpahkan minyak mentah; Mission Viking, karam di Selat Makassar (1997), menumpahkan minyak mentah; dan MT Natuna Sea, karam di Pulau Sambu (2000), menumpahkan 4.000 ton minyak mentah. (Kamaluddin, 2002).

Menurut Ingmanson dan Wallace (1985), sekitar 6 juta metrik ton minyak setiap tahun mencemari lautan. Penyebabnya secara umum adalah transportasi minyak, pengeboran minyak lepas pantai, pengilangan minyak dan pemakaian bahan bakar produk minyak bumi. Laut yang tercemar oleh tumpahan minyak akan membawa pengaruh megatif bagi berbagai organisme laut. Pencemaran air laut oleh minyak juga berdampak terhadap beberapa jenis burung. Air yang bercampur minyak itu juga akan mengganggu organisme aquatik pantai, seperti berbagai jenis ikan, terumbu karang, hutan mangrove dan rusaknya wisata pantai. Karamnya tanker Showa Maru telah menurunkan produksi tangkapan ikan di sekitar Selat Malaka dari 27,6 ton pada tahun 1974 menjadi 6,1 ton pada tahun 1975 (Bilal, 1990). Tumpahan minyak juga akan menghambat/mengurangi transmisi cahaya matahari ke dalam air laut karena diserap oleh minyak dan dipantulkan kembali ke udara.

Penanggulangan pencemaran laut di Indonesia

Dari segi prosedur baku yang berlaku, penanggulan tumpahan minyak dari bangkai MT Kharisma Selatan memang sudah cukup. Para petugas telah menggunakan pelampung untuk mencegah minyak tidak meluas yang dikombinasikan dengan penggunaan skimmer (pompa) untuk mengambil kembali minyak yang mengapung. Ini adalah prosedur standar dalam penanggulangan tumpahan minyak. Tapi, yang terlihat sibuk hanya segelintir pihak/instansi dan itupun terkesan sangat sektoral. Inilah potret penanggulangan pencemaran laut di Tanah Air. Padahal, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut keterlibatan antardepartemen terkait sangat diperlukan sehingga penanganan tumpahan minyak dapat berjalan integratif. Keterlibatan berbagai instansi pemerintah sangat diperlukan karena dampak tumpahan minyak sangatlah luas. Penanggulangan tumpahan minyak dapat dilakukan dengan membentuk semacam badan penyelenggara (executing agency) dari apa yang diistilahkan Badan Usaha Mandiri Penanggulan Tumpahan Minyak atau National Contency plan (NCP). Kita pernah mewacanakan ini tapi tidak ada kabar berita sampai sekarang apakah para pihak yang perhatian dengan masalah pencemaran laut oleh tumpahan minyak sudah membentuk wadah ini atau belum.

Kabar yang agak baik berasal dari Pertamina. BUMN ini telah memiliki 54 sistem Tanggap Darurat Penanggulangan Tumpahan Minyak Tier. Tapi pengelolaannya masih bersifat lokal dan pembentukannya baru berdasarkan kebutuhan teknis, belum melalui penilaian (assessment) yang medalam. Dampak dari kondisi yang ada itu tentulah akan terasa bilamana memasuki tahapan pasca lokalisasi tumpahan. Dalam tahap ini mulai dihitung kerugian yang diderita oleh semua pihak akibat pencemaran yang terjadi. Juga, akan dihitung berapa besar kerugian yang harus dibayar oleh pemilik kapal sesuai aturan internasional yang berlaku. Dari penanganan kasus tumpahan minyak MT Kharisma Selatan belum terlihat langkah-langkah yang telah dipersiapkan oleh para pihak untuk tahapan pasca lokalisasi tumpahan. Terutama, memperkirakan dampak kerusakan terhadap lingkungan dan kehidupan ekonomi masyarakat yang tergantung pada lautan di sekitar Pelabuhan Tanjung Emas. Padahal, semestinya semua langkah harus berjalan simultan.

*Direktur The National Maritime Institute (NAMARIN) Jakarta

Posted in Industri Pelayaran, Pencemaran Lingkungan Maritim, Transportasi Laut.

Tagged with , , .


13 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Prio Sriyono says

    Beberapa bulan lalu telah dibentuk TIM penanggulangan pencemaran di laut yang dikoordinatori oleh Departemen Perhubungan dengan keanggotaan antar departemen termasuk juga kepolisian dan TNI Angkatan Laut. Beritanya juga termuat di koran-koran2 dan media elektronik (TV). Saya sendiri ketika masih di BKI, membaca SK presiden tentang pembentukan TIM tersebut. Jadi, sebenarnya kasus MT. Kharisma Sekatan adalah tes awal apakah kita hanya mengulang kembali sebuah kesalahan, dimana senangnya membuat Tim, panitia, badan, komite dll tetapi nihil dalam pelaksanaan.

    Satu hal lagi, saya cari di Register Kapal BKI, tidak ada namanya kapal MT. Kharisma Selatan. Jadi kapal ini tidak terdaftar di BKI dan bukan klass BKI. (Maaf saya kurang tahu terdaftar di mana????).

    Pengalaman saya menganalisa penyebab kecelakaan terlalu banyak kebohongan publik yang telah terjadi selama ini. Semua akhirnya menuju kepada penyelamatan jabatan dan uang yang berbicara.

  2. hilmykapal says

    Urun Koreksi.
    Tenggelamnya bukan di Tanjung Perak Surabaya??
    Kok tertulis di Tanjung Mas Semarang.
    Maaf bila saya salah.

  3. Siswanto Rusdi says

    Pak Hilmy,

    Terima kasih untuk koreksi anda. Tempat kejadian memang di Tanjung Perak. Saya telah saya melihat data.

  4. Sapto says

    Kira-kira tindakan lanjutan penanganan apa lagi ya pak Sis,Kayaknya pencemaran minyak dianggap biasa aja…

  5. Siswanto Rusdi says

    Inilah permasalahan terbesar kita, Pak Sapto. Kita sudah memiliki seluruh perangkat hukum (bahkan perangkat keras) tapi implementasinya tidak jalan juga. Tindaklanjutnya adalah bagaimana menjalankan apa yang sudaj kita buat…

  6. taufik says

    Assalamualaikum……..
    lalu bagaimanakah keterlibatan dari pemilik kapal itu sendiri,
    Apakah kapal yang digunakan itu memenuhi syarat untuk berlayar?
    Apakah kapalnya lulus uji kelayakan?
    dan lain-lain
    perlu juga diketahui bahwa kapal selain sebagai alat transportasi juga merupakan tempat tinggal, jadi harus layak untuk dihuni. Lalu bagaimanakah keadaan perkapalan di Indonesia ini…..?!^#$?
    tidak usah mencari siapa yang salah, tetapi mulailah perubahan dari diri sendiri.
    wassalammualaikum….

  7. Renny says

    Waa menarik sekali pak artikelnya. Saya ingin mengetahui dari mana kita bisa mendapatkan data mengenai pencemaran laut yang terjadi di perairan Indonesia ya pak? Mengingat saat ini saya sedang tidak berada di Indonesia dan membutuhkan data untuk riset. Terima kasih..

  8. opic says

    penanggulangan yang salah dan hanya benyak

    bicara saja tidak di

    lakukan dengan sangat baik kaya anak kecil

  9. dipri says

    Untuk pengaturan pencegahan dan penanggulangan pencemaran di laut yang bersumber dari kapal dan selain kapal (pelabuhan, anjungan migas, dll) sudah diatur secara Internasional dan Nasional.

    Aturan Internasional antara lain UNCLOS 82, IMO Convention, Konvensi Marpol 73/78, dan CLC
    Sedangkan aturan Nasional antara lain UU 17 / 2008 tentang Pelayaran, Perpres 109 / 2006 ttg Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut

  10. johanna says

    saya sangat setuju untuk hal ini karena memang laut indonesia harus di jaga

  11. kus prisetiahadi says

    Dear All,
    Hanya ingin menambahkan bahwa terkait dengan penanggulangan tumpahan minyak di laut, telah disyahkan Peraturan Presiden No 109 Tahun 2006 tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Akibat Tumpahan Minyak Di Laut yang mengatur organisasi di tingkat nasional, daerah dan industri/migas. Apabila terjadi tumpahan minyak serta mitigasi nya telah disiapkan perangkatnya di bawah Perpres ini.

    Konsep Tier di dalam Perpres ini diadopsi dengan baik.

    Semoga bermanfaat,
    Kus Prisetiahadi
    KLH-Jakarta

  12. Linda Martinelly Bsc says

    Kami PT. Era Asta Marin Nusantara sebagai produsen Kimia Merk “ARMI Chemical” dimana produk kami ini sudah mendapat kepercayaan dari kalangan Oil Company, Industry & Perkapalan.
    Salah satu pruduk andalan kami adalah: OIL SPILL DISPERSANT (OSD) yang merupakan Formula yg dirancang khusus untuk membersihkan tumpahan minyak pada permukaan air l(laut, sungai, pesisir). karena produk ini dirancang dengan Basic Water Base sehingga tingkat keracunannya sangat rendah (ramah lingkungan) tidak membahayakan kehidupan hewan air dan lingkungannya.

  13. machfudi says

    ass.wr.wb bumi ini hanya titipan dari yang membuat hidup dari allah s.w.t semata kita di wajibkan menjaga kelestarian alam memang tidak menyalakan mungkin manusianya bekerja hati-hati tapi segelintir orang yang sembrono dan berakibat vatal sampai terjadi kecelakaan ya memang manusia tempatnya salah kamu harus perduli ekosistem perairan bersih itupun untukmu juga dan yang hidup didalamnya juga cepat berkembang biak ya untukmu penanganan laut juga membutukan tenaga dan biaya kalau ada pencemaran sedikit harus segera di atasi kalau dibiarkan sampai berlarut-larut vatal akibatnya dan mawas dirilah untuk masa depan demi anak cucu kita sekian. wassallam



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.