Skip to content


Upah Minimum Pelaut

Hari Buruh sedunia kembali diperingati dengan sukacita di Indonesia pada 1 Mei lalu. Keinginan mendapatkan kondisi kerja yang lebih baik lagi-lagi diteriakan oleh berbagai serikat buruh yang turun ke jalan-jalan berdemonstrasi merayakan hari yang dikenal juga dengan sebutan May Day itu.

Sebagai elemen dari kelompok buruh, pelaut (seafarer) tentu menginginkan juga peningkatan kondisi kerja. Malah, melihat kecelakaan kapal yang sering terjadi di Tanah Air mereka sejatinya perlu mendapatkan lebih. Dalam kalimat lain, mereka perlu standar penggajian atau upah minimum tersendiri yang berbeda dari pekerja sektor lainnya.

Mengapa pelaut kita membutuhkan standar upah minimum tersendiri? Apakah pantas mereka mendapatkannya?

Kondisi Kerja Pelaut

Menurut International Transportworkers’ Federation (ITF), kerja pelaut sangat berat dan karenanya memerlukan kondisi kerja yang berlainan dengan pekerja sektor lainnya. Kapal layaknya satu pabrik. Tapi ia bergerak terus mengarungi samudera dengan menembus badai, menerjang ombak dan kadang dihadang gerombolan perompak (pirate). Pekerja di atasnya tentulah akan sangat terpengaruh dengan kondisi tersebut, baik fisik maupun mental.

Kalau sudah berhadapan dengan badai atau ombak yang menggunung, pilihan yang tersedia hanya dua, meninggal atau selamat. Pekerja di darat juga tidak luput dari kecelakaan, tapi peluang kematian masih juah lebih kecil dibanding pelaut.

Kini, dengan makin canggihnya teknologi di atas kapal yang berujung pada makin sedikitnya jumlah pelaut yang dibutuhkan untuk mengawakinya, beban itu makin bertambah. Jika sebelumnya seorang pelaut mengurusi satu pekerjaan tertentu, ia sekarang harus bisa mengerjakan pekerjaan lain dalam waktu hampir bersamaan. Kelelahan luar biasa merupakan dampak yang tidak dapat dihindari oleh pelaut.

Keadaan akan makin parah jika ia bekerja di atas kapal berbendera kemudahan (flag of convenience/FOC). Di kapal ini mereka dipekerjakan dengan sangat berat tapi dengan gaji yang sangat minim, malah ada yang tidak mendapat bayaran sama sekali. Menurut organisasi yang bermarkas di London itu, negara yang termasuk kelompok FOC adalah, antara lain, Antigua and Barbuda, Bahamas, Barbados, Liberia dan Perancis (second register).

Kalau pun pelaut mendapat waktu istirahat, saat seperti itu tidak terlalu banyak memberi dampak kepada mereka. Pasalnya, tempat istirahat masih di lokasi yang sama dengan tempat bekerja. Inilah faktor yang memengaruhi kondisi mental tadi. Jika pun mereka turun ke darat waktu yang tersedia tidak cukup untuk bersantai dengan cara yang normal. Pelaut biasanya berada di satu pelabuhan paling lama tiga hari selanjutnya berlayar.

Upah Minimum Pelaut

Memahami kondisi kerja pelaut selama masa kerjanya di atas kapal meyakinkan kita bahwa mereka memang layak mendapat sedikit keistimewaan dibanding pekerja sektor lainnya. Lantas, berapa upah minimum untuk seorang pelaut?

Saat ini pelaut Indonesia digaji oleh pemilik kapal sedikit di atas upah minimum provinsi (UMP). Dengan pola penggajian ini seorang Nahkoda di kapal Indonesia akan bergaji kurang-lebih Rp 3,5 juta per bulan. Sementara, jika ia bekerja di Singapura akan mendapat US$ 2.000 ditambah premi per bulan US$ 200.

ITF telah memberikan standar untuk pengupahan pelaut, yakni US$ 1.500. Nominal ini diberikan untuk pelaut dengan pangkat perwira sementara untuk pangkat terendah atau AB (able-bodied seamen) berkisar antara US$ 500 dan US$ 600. Di samping upah minimum para pelaut harus juga dilindungi oleh asuransi. Besarnya sangat tergantung dengan pangkat mereka.

Kepangkatan pelaut terbagi dalam dua kelompok: rating dan officer. Yang pertama adalah seluruh jabatan di bawah officer, AB masuk dalam kelompok ini, sementara yang kedua adalah kepala dari berbagai departemen yang ada di atas kapal seperti dek/anjungan, mesin dan lain. Nahkoda tidak termasuk dalam jajaran ini; ia mewakili negara bendera (flag state) sehingga ia dapat bertindak sebagai pembuat akte kelahiran, surat keterangan kematian, perkawinan dan sebagainya.

Apakah pemilik kapal Indonesia akan mampu memenuhi upah minimum pelaut itu? Sebetulnya bisa sejauh diberi kemudahan oleh pemerintah dan kalangan lembaga keuangan dalam aspek pajak, kemudahan mendapatkan kredit dengan tingkat suku bunga yang rendah dan lain sebagainya. Saat ini pemilik kapal masih dikenai suku bunga yang sangat tinggi oleh kalangan perbankan dalam negeri, jauh di atas tingkat suku bunga rata-rata yang dikenakan oleh perbankan Singapura atas perusahaan pelayaran di sana, yakni antara 7-8 persen per tahun.

Jika standar upah minimum untuk pelaut bisa diterapkan, profesi pelaut akan dilirik dan menjadi pilihan generasi muda Indonesia yang saat ini masih banyak yang menganggur. Mereka akan melihat pekerjaan ini cukup menjanjikan karena gajinya lumayan besar. Jika generasi muda kita berbondong-bondong menjadi pelaut, Indonesia akan menjadi negara maritim yang betul-betul punya jatidiri yang bisa dibanggakan. Semoga.

*Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Jakarta

Posted in Ekonomi Bahari, Industri Pelayaran, Transportasi Laut.


28 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Joe Ragan says

    Pak Siswanto Yth,

    Salam kenal.

    Mengingat Serikat Buruh di Tanah Air sudah dikebiri selama 32 tahun, apakah ada gejala-gejala akan tumbuhnya Seikat Buruh itu.

    Serikat Buruh adalah penting sebagai wadah bagi pekerja dalam usaha menaikkan tingkat hidup mereka. Seperti upah, perbaikan tempat bekerja dan juga soal kesehatan si pekerja itu sendiri (HealthInsurance).
    Juga ini merupakan wadah dalam pendidikan ketukangan atau disiplin berkerja. Sehingga ketrampilan ini dapat di”pasarkan” kepada pengusaha.

    Namun rupanya membentuk Serikat Buruh di tanah air akan mengalami hambatan. Malah akan dibiarkan seperti jamannya Orba. Dahulu karena meng-kiblat ke Negaranya Beruang. Sekarang negaranya sudah berantakan, akan dicari alasan lain agar perkembangan Serikat Buruh tetap keadaanya seperti sekarang ini.

    Mungkin kenaikan BBM akan menjadi alasannya. Ongkos perusahaan membengkak, kemungkinan pekerjanya naik gajih akan menipis.

    Apalagi dengan “gaya” ekonomi sekarang ini, perusahaan menekan ongkos pengeluaran seminim mungkin agar “laba” naik setinggi mungkin.
    Pengusaha kan harus menyenangkan hati (=kantong?) para “investor”, asing atau lokal.

    Salam,
    Pak Joe

  2. Siswanto Rusdi says

    Pak Joe,

    Terima kasih untuk komentarnya. Apa yang bapak utarakan memang benar belaka adanya. Keberadaan serikat pekerja kita sejatinya memerlukan pemikiran yang brilian dari para aktivisnya agar betul-betul bermanfaat bagi anggotanya.

    Salam,

    SR

  3. rizalica says

    gaji pelaut harus jauh di atas standar..karena resiko kerja yg sangat bahaya..di mana kita jarang ketemu istri anak klga..kapal lepas tali dari pelabuhan…belum tentu kita dapat pasang kembali tali di pelabuhan selanjutnya..

  4. Bob Hari Purwanto says

    Salam Bahari Pak Sis
    Berbicara mengenai ‘kepelautan’ tidak bisa dilakukan dari bottom – up, juga harus ada willing / keinginan stake holder negara ini yang berkesinambungan melihat masalah kepelautan dan indsutri maritimnya dari Top – Down, sehingga ada synergi nya.
    Selama ini lembaga ‘urusan usaha air’ ini dikelola dengan cara amatiran, Hubla hanya bertugas meratifikasi aturan aturan international saja, sementara implementasinya tidak lebih sebagai lembaga tukang kutip, karena pelaut begitu bergantung ke sertifikasi yang pengakuannya secara international. sehingga ada istilah jalur lambat dan jalur cepat.
    Seharusnya PEMERINTAH REPUBLIK ini harus mendesign ulang
    1.Tata ruang Industri Maritim Nusantara dengan segala aspeknya.
    2.Dibuatkan Visi Misi yang jelas dan berkesinambungan.
    3.Melakukan NETWORKING yang solid dengan INDUSTRI lain yang berkaitan erat terhadap MARITIM NUSANTARA, seperti banking, pajak, aparat.
    4.Melibatkan semua pakar dan ahli yang kompenten untuk proses analisanya.
    5.Tidak malu bertanya, ber mitra dengan NEGARA lain yang sudah terbukti mapan industri MARITIM nya.

    Lima (5) langkah dasar dan sederhana itu yang harus dilakukan REPUBLIK ini, BUKAN President terpilih (yang notabene hasil produk politik sesaat) tapi ini merupakan komitmen nasional, siapapun President terpilihnya.

    Negara yang PUNYA APA SAJA, yang SEGALA nya SEMUA ADA, biasanya terkenam syndrom PENYAKIT “AA” (Aras Arasen) atau MALAS.

    MALAS berbentuk apapun, Inovasi, Kreasi …..

    Nah Kita Masyarakat MARITIM harus berani memulai ! dan BANGKIT !

    Alam dan Negara ini TIDAK akan berubah KECUALI kita MEMULAINYA>
    BANGKIT, dan LAKUKAN SESUATU DEMI REPUBLIK TERCINTA INI !

    Kalau semua itu terjadi, masalah GAJI atau kesempatan KERJA buat Pelaut yang notabene sebagai operatornya, akan Menjadi Primadona Baru

    Wass
    Bob HP

  5. dhenny.r says

    assalamualikum,
    saya bekerja di bumn PT.pertamina tongkang sejak 2005 sampai sekarang
    buat reverensi :
    jenis kapal : kapal supply dan habour tug
    jabatan : 2/o ,skr c/o
    gaji : Rp.1.800.000, skr Rp.2.950.000,- (17 juni 2009)
    roling kerja : gak jelas, suka2 yag ngatur crew, walaupun ada aturan gak pernah di terapkan, kadang 8 bulan, 7 bulan, 4 bln, malah pernah belum naik surat mutasi yg sudah jadi di tukar.
    cuti : juga gak jelas, peraturannya sama prakteknya sama2x gak jelas.
    kalau minta turun banyak alasan, walau itu krn istri akan melahirkan.
    tunjangan : jaminan kesehatan untuk istri dan 2 anak,jamsostek, dll
    uang pensiun : nanti kalo udah tua
    lain-lain : bonus di kapal 900 rb – 1,5 jt, tergantung harga carter kapal
    perbandingan antara karyawan darat dan laut beda jauh antara cuti, lama kerja serta gaji (dilihat dari resiko dan bahaya kerja)
    padahal perusahaan ini penghasilan utama dari charter kapal dan keagenan artinya pelaut berperan penting, ini baru perbandingan dgn karyawan darat loh belum dgn perusahaan lain yg lebih kecil di banding pertamina,
    kenapa perusahaan kecil saja bisa menggaji pelautnya dgn yg lebih besar dari perusahaan besar seperti PT.pertamina tongkang yg sama bergerak di bidang offshore, ck..ck..ck///

  6. Yorino DPM says

    memeng seharusnya Pelaut iIndonesia pada umumnya interesuler atau didalam negeri dissuaikan dg standard minimum yang sudah ada pada kesatuan pelau indonesia. tapi apa lacur sebagian besar perusahaan dalam negeri tidak mencapai dari pada standard minimum tersebut. maka dg hal tersebut banyak pelaut indonesia mencari pekerjaan di luar negeri untuk perwira dari 2000USD hingga 15000USD bahkan lebih dgn kontrak kerja 6 bulan kerja 1 bulan off juga ada yang 3 bulan on dan 1 ulan off. tapi betapa susah nya jadi pelaut karna meninggalkan keluarga sulitnya mendapat asuransi peribadi, kenapa saya katakan begitu banayak perusaahan asuransi yang ada di negara kita tidak mau menerima yang berisiko kecelakaan tinggi terutama pelaut. ini yang disalkan. termasuk saya seorang perwira pelaut yang bekerja pada perusahaan asing 15 tahun terakhir. hanya sekedar komentar tambahan saja.

    Salam
    ydpm

  7. Tri says

    Salam pelaut;

    Sebenarnya struktur gaji pelaut Indonesia yang bekerja di kapal berbendera Indonesia dengan daerah pelayaran Indonesia sudah jelas landasan hukumnya, yaitu :

    Dasar struktur gaji pelaut indonesia :

    1.UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan;
    2.PP No. 7 Tahun 2000 Tentang Kepelautan;
    3.Surat Edaran Dirjen Hubla No. UK.11/21/12/DJPL-06, tanggal 5 Juni 2006 Tentang Perlindungan Awak Kapal, Item 1, huruf c, 1) Gaji minimum awak Kapal dengan Jabatan terendah tidak boleh kurang dari Upah Minimum Regional/UMR

    Perhitungannnya sebagai berikut :
    1. Jam kerja sesuai UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan , pasal 77 adalah 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu, actual pelaut kerja dikapal . . . .jam/minggu;
    2. UMR DKI = Rp. 1.050.000,-/bln
    3. Perhitungan lembur/hari minggu pakai rumusan PP No. 7 Tahun 2000 Tentang Kepelautan, pasal 22

    Sehingga untuk gaji Nakhoda dengan Ijazah (COC) ANT I lebih kurang Rp. 30 Juta, dengan bobot kapal 3000 GT.
    Mudah-2an dapat membantu rekan-rekan

    Terimakasih

  8. Tri purnomo says

    Salam pelaut;

    Sebenarnya struktur gaji pelaut Indonesia yang bekerja di kapal berbendera Indonesia dengan daerah pelayaran Indonesia sudah jelas landasan hukumnya, yaitu :

    Dasar struktur gaji pelaut indonesia :

    1.UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan;
    2.PP No. 7 Tahun 2000 Tentang Kepelautan;
    3.Surat Edaran Dirjen Hubla No. UK.11/21/12/DJPL-06, tanggal 5 Juni 2006 Tentang Perlindungan Awak Kapal, Item 1, huruf c, 1) Gaji minimum awak Kapal dengan Jabatan terendah tidak boleh kurang dari Upah Minimum Regional/UMR

    Perhitungannnya sebagai berikut :
    1. Jam kerja sesuai UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan , pasal 77 adalah 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu, actual pelaut kerja dikapal . . . .jam/minggu;
    2. UMR DKI = Rp. 1.050.000,-/bln
    3. Perhitungan lembur/hari minggu pakai rumusan PP No. 7 Tahun 2000 Tentang Kepelautan, pasal 22

    Sehingga untuk gaji Nakhoda dengan Ijazah (COC) ANT I lebih kurang Rp. 30 Juta, dengan bobot kapal 3000 GT.
    Mudah-2an dapat membantu rekan-rekan

    Terimakasih

  9. DIDO says

    Jales Veva Jayamahe

    Salam pelaut,

    bicara tentang pelaut berarti kita berhadapan dengan matarantai yang amat panjang dan saling bertautan sampai pada ke-2 ujungnya.
    Dimana terdapat tiga unsur pokok ;
    – regulator
    – operator dan
    – pelaut itu sendiri

    dalam hal kesejahteraan yang manyangkut penggajian pelaut diperlukan ketegasan dari regulator dalam hal ini pemerintah selaku pembuat aturan sekaligus sebagai penegak berjalannya aturan.
    kemudian operator / pemilik kapal yang dalam hal ini berlaku sebagai penyedia lapangan kerja bagi pelaut.
    Dan yang ketiga adalah pelaut itu sendiri sebagai mata rantai yang apling akhir [ yg pada akhirnya jg (seyogyanya) dapat terhubung langsung dengan Regulator dengan dijembatani oleh KPI].
    Pemerintah sebagai regulator seharusnya dapat menjamin kelayakan/kelaikan sebuah kapal untuk dapat memberikan keselamatan yang mutlak ( diluar masalah alam & takdir ) bagi pelayar diatas kapal dengan mewajibkan serta mengawasi ketersedianya perlengkapan serta alat-alat keselamatan diatas kapal, tidak terkecuali disiplin pembiayaan dalam memenuhi perlengkapan yang diwajibkan atas kapal sesuai dengan ukuran, klass serta daerah pelayarannya. Dalam hal ini termasuk tingkat kewajaran biaya yang dibebankan kepada operator atau pemilik kapal. sehingga dapat menekan agar tidak terjadinya biaya tinggi dalam pengurusan surat2 kapal dll..
    Operator pun harus memiliki jiwa besar untuk dapat menyadari agar tidak terpaku pada perolehan keuntungan yang besar semata ( profit oriented ) dalam menjalankan usahanya. Harus disadari bahwa pelaku usahapun seyogyanya memilki rasa tanggung jawab moral terhadap para pelaut yang dipekerjakan diatas kapalnya sejauh pelaut itu dapat menjalankan tugas dan fungsinya diatas kapal dengan baik sesuai jabatannya dan agrrement yang telah dsetujui sebagaimana diatur oleh pemerintah.
    Yang terakhir Pelaut pun harus terus berusaha untuk meningkatkan kinerja serta kompetensinya sehingga operatorpun merasa puas terhadap kinerja crew kapalnya.
    Secara ringkasnya ; dengan low cost yang diciptakan oleh pemerintah serta pengusaha yang memilki jiwa society yg tinggi dan didukung dengan kompetensi pelaut yang handal dibidangnya. tentu akan lebih baik dan menguntungkan bagi ketiga unsur terkait diatas.
    Kedepannya semoga dunia maritim kita tidak kalah dengan negara lain, pelaut indonesia pun tidak kalah gengsi ketika harus duduk dalam satu meja dengan pelaut Foreign Contry di caffe-caffe negara lain.

    Best Seaman 4ever
    Salam
    Eks. Mariner

  10. hendra gunawan says

    saya mau bertanya abang sy telah bekerja di PIL singapore thn 1989 dgn ijajah MPB III sampai terahir dia meninggal dalam tugas sebagai captain dgn ijajah MPB I meninggal pada bulan agustus 2009 bagaimana perhitungan jika ada asuransinya? tks

  11. FiRDaUS_k9 says

    SaLaM PeLaUT :
    btw,im crew ship…please guys help me channel shipping 4 job oiler^^
    i have certification sea service
    – Seamans Book
    – Paspor
    – BST
    – SCRB
    – AFF
    – TF
    – EWK (ATTD)
    last my exp supply flag indonesia 6 month….
    keep kontek me at +6281218988022 and thx a lot konfirms me

  12. diana rosalia says

    gimana ya caranya memperbaiki manajemen perusahaan BUMN di indonesia, juga tradisi yang tidak baik yang sudah mengisi jiwa seluruh karyawannya, kasihan negara ini jika rusak oleh bangsa sendiri, pertamina, PLN, jakarta loyyd itu adalah perusaan besar yg sekarang sudah pudar, gesuri dan masih banyak perusahaan BUMN yang lain, apakah akan hancur pelan2X, karena orang kecil seperti kita tidak akan bisa menembus orang2x besar di negara ini, apa ada yg bisa memberi masukan bagi manusia di indonesia………, ?

    berbagi ilmu dan ide untuk kebaikan BUMN, mudah2an bisa mengangkat kejayaan di masa silam…, amin.

  13. mbah atmo says

    sekolah pelaut tetap laku pak meski pemerintahnya sendiri biasa2 aja…pelaut kita yg laku di luar negri itu yg kriterianya spt dibawah ini saya juluki mereka seaman legioner …di dada tetap merah putih tapi di lengan kanan tertempel bendera negara asing kayak tentara pbb aja…baret sama biru bendera beda2…yaitu
    1.nasib baik
    2.tidak terlalu homesick kecuali kontraknya sudah lewat
    3.skill memadai baik deck maupun engine dan selalu senang belajar hal baru
    4.computer skill memadai tidak gaptek
    5.english skill memadai untuk komunikasi dan paper work
    6.punya experience yg special spt anchor handling punya sertf DP1 ,DP 2,atau experience kapal LNG gajinya pasti beda dengan kapal niaga biasa
    7.timingnya tepat…chans bagus banyak berdatangan menjelang bulan puasa dan akhir tahun….
    8.punya jejaring sosial yg luas,kawan,broker,agent pelayaran,senior,junior wkt di sekolah pelayaran.akademi,sekolah tinggi,poltek etc
    jika gaji pelaut dalam negeri baik officer apalagi ratings ngikutin standar pabrik rokok siap2 aja akan kekurangan sdm2nya karena diserap pasar arab,eropa dan asia….supply dan demand juga berlaku di bursa pelaut international …..so buat semua seaman brotherhood mari kita sama-sama bersaing secara sehat dengan rusia,ukraina,philipina,dll karena orang eropa barat sudah enggan kelaut so peluang besar buat kita semua salam dari seaman legioner spanyol.

  14. Bambang Sucipto says

    Salam pelaut

    Aturan tentang penggajian sudah jelas,yang belum jelas sampai sekarang adalah gaji pelaut yang bekerja didalam negeri sendiri tidak sebanding dengan resiko dan bahaya yang dihadapi pelaut.Masih banyak pelaut-pelaut kita yang digaji dibawah UMR dan ironisnya terpaksa harus diterima karena tuntutan hidup. Pemerintah atau KPI buka mata dan dengar keluhan pelaut kita.kalau kita mau maju dalam dunia bahari mulailah dari sekarang,jangan hanya slogan atau janji-janji kosong,pelaut butuh kenyataan bukan hanya sekedar mimpi.
    Kedepan kita berharap jayalah pelaut Indonesia.

  15. fatma says

    betulkah ada UMP diterapkan di singaopore juga karena suamiku pelaut sana ?

  16. syafril.ka says

    ha ha ha kira 2 tahun yang lalu (2007) saya pernah melakukan penelitian tentang penghasilan pelaut indonesia ini. dari hasil penelitian tersebut diperoleh beberapa kesimpulan: al:
    1. pelaut indonesia yg bekerja di kapal-kapal di luar negeri (yang legal tentunya) mempunyai penghasilan yang cukup, bahkan mempunyai bargaining power yg cukup tinggi

    2. terdapat penyakit home sick di kalangan pelaut indonesia di luar negeri dan yg agak menggelikan ada penguasaan bahasa ingris yg kurang bagus

    3. penghasilan pelaut di dalam negeri jauh di bawah pelaut nigeria yang negaranya miskin, aneh kan…. saya menangis. yang berminat mau lihat desk study saya itu bisa kontak saya, bentuknya makalah yang probleem solving

  17. zaen rusyadi says

    saya mau tanya…..
    ada ga ya perusahaan pelayaran yang mau nerima taruna pelayaran untuk praktek?

  18. Lingga Dibrata (Facebook) says

    biasanya jika kuliah di stip semarang , itu bekerja di kapal internasional tidak ? dan berapa lama kuliahnya ? apakah langsung dipekerjakan atau tidak ? saya sudah berminat dari smp , modal kuliah kurang lebih berapa ?
    tolong balasannya , terima kasih

  19. jumhana says

    nanya donk…
    klo mau tau situs untuk daftar perusahaan pelayaran yang ngangkut batu bara khususnya daerah kalimantan, apa yah?? klo udh ada jawabannya tolong donk di jawabannya cantumin nomer HPnya juga. soalnya ny penting banget…

  20. eraneka says

    tolong bantuannya bagi sapa ja yg pnya info kerja di kapal. saya lg cari kapal cargo luar negeri, posisi AB. pengalaman saya 2 thn di kapal supply arab. sudah 1 thn lbh saya off. saya pnya doc: Passpor, buku pelaut, ANTD, BST, SCRB, AFF, CCM.
    klo da yg bantu tolong contac saya ke 085710668370

  21. nurlian says

    yg saya tau KPI kt cuma omdo=OMONG DOANG mana ada pelaut kt yg bsa di bantu klo ada orang mati di kapal bru di urusin karna ada uang cuyy bagaimana kt sebagai pelaut mau bangga dg negara kt sendiri org negara nya ga pernah mau tanya tentang WNI yg kerja di luar negri.thank

  22. Darminto says

    standar gajih pelaut……..
    aduuuuuhhhhh, lebih baik hidup di darat ingat berapa dokumen yg harus di punyai nya
    .punya satu dokumen saja ngurusnya susah minta ampun. banyak di peras sama oknum – oknum laknat setan.
    sudah kerja di kapal sdh gajih ya kecil kapal dalam masih di peras lagi sama oknum oknum di pelabuhan. ( ini bukti bukan fitnah ) kalau tdk percaya silakan kerja pada kapal di bawah grt 2000.
    saya pernah satu pelabuhan habis 750 ribu , untuk oknum keparat.
    padahal gajih kita cuman 4 jt. itupun jd master.
    sdh gajih kecil masih di peras sama oknum keparat.

  23. Siswanto Rusdi says

    Instansi apa saja yang memeras anda, pak?

  24. Berita Kapal says

    salam pelaut batam

  25. Siswanto Rusdi says

    Salam, Berita Kapal. Selamat bergabung.

  26. Heri says

    Salam, Bapak Siswanto.
    Artikel Anda cukup menarik. Ijin share dengan rekan-rekan saya. Kebetulan saya bekerja di sekolah pelayaran.
    Terima kasih.

  27. Siswanto Rusdi says

    Silakan. Dengan senang hati….

  28. rosid says

    Saya baru taruna laut sekarang calon perwira. Kalo di liat dati artikel nya apakah mungkin pelaut di indonesia sangat lah tidak menjanjikan seperti seminar yg saya dengar yg dimana dibilang lulusan perwira atau ant III standar gaji nya 20 k sampai 25k?



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

*