Skip to content


Penyegelan 105 kapal yacht di Kupang oleh Bea dan Cukai, Suatu “Keajaiban” di negara kepulauan Indonesia yang sedang mencanangkan Visit Indonesia Year 2008

 

Membaca berita di media Kompas (3 Agustus 2008) dengan judul ”105 Kapal Turis Disegel Bea dan Cukai Kupang” maka saya jadi sangat heran.  Heran karena menurut saya ini adalah salah satu dari keajaiban-keajaiban yang kerap terjadi di negara kepulauan Indoneisa ini.  Tetap saja saya heran meskipun kerap terjadi.

Kapal-kapal yacht tersebut adalah para peserta acara “Sail Indonesia 2008” yang detail acara tersebut pernah saya posting di web IMC ini pada tanggal 15 Mei 2008.

Kenapa kejadian ini ajaib? Ada beberapa hal, yaitu :

1.    Acara ini adalah acara rutin tahunan yang selalu berkembang dimulai dari Darwin-Ambon yacht race, lalu menjadi  Darwin-Kupang, lalu menjadi Darwin-Kupang-Bali dan aknirnya sampai menjadi 2 rute utk tahun 2008 ini (Eastern and Western passage). Antusiasme peserta Internasional selalu meningkat dari tahun ke tahun.

2.    Acara “Sail Indonesia 2008” ini melibatkan lintas departemen yaitu Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta Departemen Kelautan dan Perikanan.

3.    Acara ini bertepatan dengan ”Visit Indonesia Year 2008”

4.    Negara Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia.

Kalau kita ikuti terus beritanya di media Kompas maka yang mengemuka adalah hal itu disebabkan oleh ”minimnya koordinasi”.  Apakah itu sebab utamanya?

Kalau saya melihatnya lebih ke belum terbentuknya karakter Indonesia sebagai bangsa maritim.  Sebagian besar orang Indonesia adalah bangsa daratan yang kebetulan hidup di negara kepulauan yang namanya Indonesia.

Mudah-mudahan “keajaiban” seperti ini tidak terulang lagi di masa mendatang dan kegiatan Sail indonesia 2009 dan seterusnya bisa berkembang menjadi acara yang lebih besar lagi dan memberikan citra yang indah akan negara kepulauan Indonesia tercinta di mata dunia.

Posted in Wisata Bahari.


6 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. cattoni_E says

    Perihal seperti ini bisa terjadi karena kurangnya koordinasi antara panitia pelaksana dengan pihak bea cukai, jadi semestinya pihak panitia pelaksana harus bener2 mensosialisasikan kegiatan seperti ini ke semua elemen yang terkait baik pemerintah atau masyarakat umumnya

  2. Muhammad Budiansyah,ST says

    Tidak sepantas nya ada salah koordinasi ,kalau semua pihak ada suatu kerjasama dan goodwill yang baik .Mengapa ini bisa terjadi padahal event tersebut untuk menyemarakan dan upaya membangkitkan nilai kemaritiman kita .
    What a shy we have done ? mudah2 an ini yang pertama dan terakhir .
    Bravo maritime indonesia ,Bravo Maritime club.

    Budians 99

  3. kaptenslamet says

    Jelas ini menunnjukan ketidak mampuan pemerintah untuk berkomunikasi antar lembaga pemerintah dan kegagalan Departemen Pariwisata dalam menjalankan programnya yang tidak lain dan tidak bukan adalahbukti tidak berfungsinya pemerintah.

  4. Lautbiru says

    Kapten Slamet,

    Kalau kita lihat misalnya dibanding daerah Karibia, Mediterania dll., alam bahari Indonesia tak kalah bagusnya. Hanya saja kita tidak punya strategi dan kebijakan yang jelas dalam pengelolaannya.

    Pengelolaan berarti :
    – promosi yang tepat
    – kesiapan infrasturktur (marina, sarana perawatan/perbaikan yacht yang berstandar internasional, dll)
    – kesiapan masyarakat pesisir (berperan aktif dan langsung merasakan manfaatnya)
    – kesiapan regulasi (izin, cukai dan pajak)
    – kesiapan keamanan (pelindung dan penegakan hukum yang tegas dan adil dan tentu saja tidak korup)
    – kesiapan sarana keselamatan (SAR, evakuasi medis, dll).

    Bagaimana kalau kita ciptakan semacam Republik Maritim Mimpi dan kita susun sendiri visi, misi, goals, objective, strategi dan taktik-nya (termasuk regulasinya)…. siapa tau hasilnya bisa lebih baik dan nantinya diadopsi oleh bapak2 di Republik Indonesia….

  5. kapten slamet says

    Setuju Bung! kalau bicara potensi, jelas Indonesia punya banyak keunggulan. Sayang setelah bicara potensi orang berhenti karena banyak orang merasa percuma bicara yang lain termasuk hal-hal yang anda usulkan karena takutnya hanya jadi mimpi. Karean kalau kita lihat untuk bisa melakukan semua hal diatas selalu kembali ke pemerintah yang sekali lagi disfunctional.

    Akan tetapi saya berpikri kalau bermimpi saja kita tidak berani maka jangan harap perubahan bisa datang.

    Saya usul kita fokus dulu ke masalah regulasi dan kesiapan masyarakat pesisir. kalau bisa hasil diskusi dijadikan semacam panduan kebijakan. Sehingga dapat diadvokasikan ke banyak pihak.

    Bagaimana kalau dimulai dengan pembuatan pokok-pokok pikiran atas masalah2 tersebut.

    Salam

  6. Lautbiru says

    Kapten Slamet,

    Jadi seru nih kayaknya. Berkaitan dengan “mimpi” kita ini saya sudah coba posting tulisan mengenai Visi Kelautan Indonesia. Karena kalau kita nggak punya visi maka semuanya jadi akan nggak punya arah. Bayangkan jika Kapten berlayar tanpa suatu tujuan yang jelas. Bisa menjadi malapetaka bukan (kehabisan BBM, persedian air tawar dan makanan, terjebak badai, dll)?

    Kesiapan masyarakat pesisir….. frasa kunci yang membuat saya bersemangat bermimpi… Bagaimana caranya memajukan dunia maritim dengan berlandaskan kearifan lokal…… mantap….

    Jadi mimpi kita kali ini adalah penyusunan konsep bagaimana supaya Indonesia bisa menjadi “yachting destination” yang berdasarkan kaearifan lokal berskala Internasional begitu ya Kapten?

    Sik.. asik….



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.