Skip to content


Pembuat Kapal Kayu Tradisional, Bahan Baku Kayu dan Illegal Logging

 

Di Indonesia terdapat para pembuat kapal kayu tradisional yang sudah melakukan profesinya secara turun temurun selama bergenarasi-generasi.  Mereka tersebar di pesisir wilayah Indonesia dan sampai saat ini tetap berusaha menekuni profesinya itu dan membangun kapal kayu ukuran kecil, sedang dan besar.

Konsumen kapal kayu tradisional secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi :
• nelayan (tradisional maupun non-tradisional)
• industri pariwisata (pasar nasional, regional maupun internasional)
• pelayaran rakyat
• pelayaran angkutan penumpang

Kesemua kelompok konsumen tersebut adalah bagian dari komponen pelaku kegiatan ekonomi maritim yang memberikan sumbangan yang besar kepada ekonomi masyarakat pesisir di Indonesia secara umum.

Pembuatan kapal kayu tradisional bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu :
• industri
• tradisi dan budaya

Sebagai industri, pembuatan kapal kayu tradisional ini melibatkan tenaga kerja yang mempunyai keahlian khusus, melibatkan teknologi pembuatan kapal kayu asimilasi antara metode tradisional dan non-tradisional.  Beberapa kapal hasil produksi pembuat kapal tradisional bahkan sudah dikenal secara regional maupun internasional.

Sebagai tradisi dan budaya, pembuatan kapal kayu tradisional juga ikut serta dalam pengembangan karakter dan kearifan lokal yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat pelakunya.  Kegiatan ini juga bagian dari daya tarik lokal yang menjadi minat wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Saat ini bahan baku kayu untuk pembanguan kapal semakin terbatas.  Para pembuat kapal sangat terpengaruh akan kondisi tersebut.  Ada yang kegiatannya terhenti, beralih ke bahan baku lain atau terus berpindah lokasi pembangunan mengikuti lokasi ketersedian kayu.

Di lain pihak, saat ini sedang digencarkan pemberantasan illegal logging oleh pemerintah.  Hal yang sangat perlu dilakukan dalam usaha mempertahankan keseimbangan alam yang memang sudah sangat rusak ini.

Jika dilihat data konsumsi kayu secara nasional oleh pembuat kapal tradisional maka seharusnya bisa didapatkan besarannya.  Dari situ bisa dilihat kontribusi kegiatan pembuatan kapal tradisional terhadap laju pengurangan hutan. Apakah signifikan?  Saya pernah berbincang dengan salah satu pembuat kapal tradisional di Kalimantan dan Beliau bercerita bahwa kapal kayu phinisi yang saat itu sedang dibangun (ukuran panjang Loa  40 meter dan kira2 GT-nya sekitar 300-an RT) mengkonsumsi kayu sebanyak 500 meter kubik untuk pembangunan selama 1,5 s/d 2 tahun di lokasi sekitar sumber kayu tersebut.  Lalu persis di sebelah kanan kirinya ada saw-mill ilegal yang mengkonsumsi kayu 500 meter kubik per minggu untuk tiap saw mill untuk menghasilkan papan-papan kayu yang dikirim ke luar daerah.

Saat ini banyak saw-mill ilegal tersebut sudah tidak beroperasi akibat dari digencarkan pemberantasan illegal logging di daerah tersebut.  Tetapi kegiatan pemberantasan illegal logging di lokasi tersebut juga mulai berimbas kepada para pembuat kapal tradisional sehingga kapal yang sedang mereka buat (pesanan orang) mulai dilingkari police line dan bahkan ada pembuat kapal dijadikan tersangka dan ditahan.

Melihat kondisi-kondisi di atas timbul pertanyaan-pertanyaan sbb :

Bagaimana caranya memelihara kegiatan pembuatan kapal tradisional sebagai industri maupun tradisi dan budaya dengan tetap menjaga keseimbangan alam?

Bagaimana caranya supaya kegiatan pembuatan kapal tradisional bisa dilihat sebagai kegiatan yang legal yang mempunyai kontribusi nyata dalam pengembangan ekonomi maritim?

Bagaimana agar pelaku pembuat kapal tradisional bisa mendapatkan bahan baku kayu yang legal?  Apakah sudah ada aturan yang aplikatif yang mengatur agar para pembuat kapal tradisional bisa tetap berkegiatan tanpa harus dikejar-kejar aparat pemerintah?

Posted in Ekonomi Bahari, Industri Galangan Kapal, Wisata Bahari.


10 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. warrie says

    Waktu kecil dulu, saya sering melihat orang-orang di tepi pantai kota saya, membuat perahu-perahu tradisional dari kayu. Tidak tanggung-tanggung, kayu yang mereka pakai adalah kayu jati kualitas terbaik. Disamping sudah harus merah dan tua, kayunya juga tidak boleh ada matanya. Pembeli perahu-perahu mereka sebenarnya bukan orang-orang yang kaya raya. Mereka hanya juragan-juragan “cukrik” (perahu kecil) dari kota kecil yang kekayaannya didapat dari hasil tangkap ikan di laut-laut yang tak jauh dari pantai.

    Walaupun juragan-juragan ini tidak ikut langsung terjun ke laut, tapi setidaknya ada “juru-juru gidang” yang dipercaya untuk mengkoordinir “wong-wong miyang” (nelayan) lepasan dari kampung-kampung sekitar pantai.
    Jamannya sudah berubah. Kayu-kayu jati super sudah tidak mudah lagi mereka dapatkan. Kalaupun ada pasti harganya mahal sekali. Dan pembelinya juga pasti tidak sanggup lagi.

    Beberapa kali saya pulang kampung sudah tidak melihat mereka lagi membuat perahu-perahu seperti dulu. Sebuah usaha yang mereka geluti turun-temurun sudah berakhir. Dan akan jadi sebuah legenda untuk anak cucu mereka.

    Hutan jati yang memberikan kayu-kayu mereka sudah tidak lagi seperti dulu. Sudah semakin sempit dan tidak lebat lagi. Orang-orang sudah tidak lagi menjual kayu-kayu bakar atau juga arang-arang dari jati setiap pagi hari. Deretan orang-orang berjalan dari kampung-kampung “alas” memikul dan menggendong kayu sambil membawa obor-obor bambu kecil seolah telah membunyikan dentang jam ekonomi dan membangunkan seluruh pelosok sebagai tanda aktifitas kehidupan sudah harus dimulai.Tidak lagi ada.

    Sementara dibelahan bumi yang lain, orang sangat mengagumi kekuatan, keindahan, alur serat kayu jati. Sehingga layak mereka anggap sebagai barang-barang mewah dengan nilai ekonomi tinggi yang mereka banggakan. Peluang yang begitu luar biasa ini akhirnya mengundang industrialis-industrialis untuk menancapkan cakar-cakar mesin keruk uangnya dengan menggunakan berbagai macam cara hingga melakukan “deforestry” yang paling besar dan paling cepat sepanjang sejarah hutan jati itu sendiri.

    Tak ayal berbagai tekanan dan kritik diarahkan kepada otoritas pemerintah yang dianggap tak mampu memelihara kelestarian hutan. Akibatnya timbulah reaksi yang luar biasa serta membabi buta dengan melakukan penangkapan-penangkapan (beberapa juga kasus penembakan) kepada semua orang yang mereka curigai termasuk juga kepada orang-orang yang sebenarnya dalam konteks ekosistem selama ratusan tahun tidak pernah mengacaukan keseimbangannya.

    Lantas bagaimana nasib industri kapal kayu tradisional?

    Amat sangat disayangkan kalau sampai tidak ada kebijakan dari penyelenggara pemerintahan, dalam hal ini, untuk setidaknya mempertahankan tradisi turun temurun selama ratusan tahun sebagai pembuat kapal tradisional yang mereka warisi dan mungkin juga akan diwariskan kepada anak cucunya.

    Nenek moyangku (mungkin saja) seorang pelaut, tapi tidak dengan cucu moyangku. Hanya saja setidaknya mereka punya nenek moyang yang nenek moyangnya (mungkin) seorang pelaut.

  2. amir says

    kapal kayu merupakan salah satu kebanggan bangsa ini. setangguh2nya pelaut eropa tapi belum ada yang setangguh pelaut kita, ga ada yang diantara seluruh pelaut didunia ini yang berlayar mengelilingi dunia menggunakan kapal seperti kapal yang digunakan pelaut kita zaman dulu. aq sangat bangga dengan pelaut kita, jadi jangan sampailah kapal2 kayu yang menjadi tradisi kita punah begitu saja mari kita kembangkan lagi dengan tetap memperhatikan kelestarian hutan kita. JALES VEVA JAYA MAHE, slogan itu hanya ada di Indonesia Raya.

  3. S says

    The benefits of conforming to socio-environmental laws are not easily or immediately seen. Meanwhile, the hallmark of good capitalistic investment is that the investment pays off quickly—to get profits fast! How can we stop capitalism from destroying the environment? That’s what we have to ask.

    I am amazed at an Indonesian political fashion company called shirTalks (www.shirtalks.com) that dares to ask these questions. They actually did a nice shirt design about it, particularly about illegal logging. Check out my blog at http://shirtalks.wordpress.com/2009/02/26/capitalism-kills-trees/ to see it.

  4. Singgih Nata says

    Warisan nenek moyang ini hanya dapat dijaga kelanggengannya dengan usaha melindungi hutan dimana pohon untuk pembangunan kapal kayu itu tumbuh.
    Hutan ini harus dijadikan “hutan lindung”. Hanya pohon yang cukup umurnya boleh di tebang dan dijadikan kayu. Itupun, kalau kayunya diperuntukkan bagi pembangunan kapal layar kayu.

    Kapal Layar Mesin dan kapal layar penangkap ikan lepas pantai tidak dibenarkan untuk memakai kayu khusus ini. Harus dicari atau dialihkan bahannya ke kayu lain atau ke bahan reinforced fiber glass, misalnya.

    Warisan nenek moyang ini akan langgeng mengarungi lautan Nusantara, kalau cukup banyak Kapal-kapal layar kayu yang menghubungkan satu pelabuhan dengan pelabuhan lainnya di seluruh Nusantara.

    Kapal layar kayu, harus diberikan kelonggaran dalam mengurangi ongkos-ongkos pengoperasiannya. Mungkin dengan membebaskan pajak, pembayan yang rendah kalau sandar didermaga untuk waktu tertentu. Lewat waktu tertentu baru dikenakan pembayaran.

    Diusahakan dalam usaha bongkar muat memakai derek didarat, ongkos menyewa derek ini dibebankan kepada sipengirim barang atau sipenerima barang. Peraturan untuk tidak memakai alat-alat derek dipelabuhan kapal layar ini, sudah kolot dan harus ditiadakan. Juga pemakaian alat-alat pembantu bagi buruh harus dijajagi. Mengganti cara buruh yang mengangkut karung-karung diatas pundaknya., serta berjalan diatas papan yang menghubungkan kapal dan dermaga. Umpamanya dipikirkan suatu “chute” dari kapal ke darat. Sehingga karung itu dapat jatuh meluncur kedermaga karena tarikan bumi (gravity)

    Kapal-Layar Kayu diberikan trayek khusus dalam pelayaran dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Umpanya untuk izin 1 kapal layar mesin namun 5 kapal layar kayu diizinkan melayani rute tersebut.

    Kapal Layar Mesin, walaupun dipasang tiang layar dihaluan kapal, tetapi dalam pelayarannya tidak memakai layar sama sekali. Adanya tiang layar itu hanyalah usaha dalam menekan ongkos pajak, agar semurah kapal layar kayu. Lebih banyak Kapal Layar Mesin mengarungi lautan Nusantara, akan menjadi jalan dalam kepunahan ketrampilan anak buah kapal dalam mengarungi lautan memakai tenaga layar (angin).
    Dalam dunia krisis energy, kita sudahmempunyai jalankeluarnya. Hanya sekarang perlu dipikirkan untuk memaksimalkan jalan keluar ini.

    Harus ada Bagian dari Dep. Hub untuk meneliti lebih jauh akan keberadaan Kapal Layar Kayu dari segi Historis, maupun dari segi ekonomis dan juga teknis dalam usaha memperpanjang usia kapal layar kayu. Mungkin coating bagi lambung kapal yang cocok dan membuat kayu menjadi lebih kuat serta tahan air laut. Pemakaian alat-alat navigasi yang mutakhir. penerimaan berita cuaca bagi seuruh kapal dilautan.
    Mencari jalan untuk tenaga listrik untuk keperluan penerangan lampu-lampu navigasi, tenaga untuk radio, compter atau GPS. Serta Pemancar Radio Darurat untuk kepentingan SAR.
    Tenaga listrik untuk dipakai sebagai tenaga penggerak kapal sewaktu masuk dan keluar pelabuhan serta sewaktu sandar dan melepas dari dermaga.

    Pembangunan pelabuhan baru atau memperbaiki pelabuhan yang sudah ada khusus bagi kapal-kapal layar kayu, perlu dilaksanakan secepatnya.

    S.Nata

  5. Rintis says

    saya mahasiswa UNDIP semester akhir. saya mau skripsi tentang kapal perikanan.tapi khususnya dalam pembuatannya. tolong diberi pandangan mengenai pembuatan kapal baik secara tradisional ,maupun modern. sebab itu merupakan judul yang akan saya ajukan.
    serta tolong dikirimkan list mengnai galangan kapal di sekitar semarang.
    thanx

  6. vygart says

    Saya Mahasiswa UNSUR Cianjur semester akhir sedang melakukan penelitian tentang stabilitas kapal perikanan tradisional di pesisir laut selatan, tolong dong kirim desain n konstruksi kapal tradisional 2 GT berbahan kayu n fiberglass. thanx before

  7. Singgih Nata says

    Sdr. Vygart,

    Stabilitas kapal sudah diukur dan diperhitungkan pada waktu perencanaan pembuatan kapal itu diatas kertas . Dan ini adalah pekerjaan ahli dari seorang Maritime Arsitek. Didalam forum ini ditekankan dalam usaha diskusi.

    Kalaupun Anda bermaksud untuk mengadakan penelitian, jalan-jalanlah ke Pelabuhan Ratu dan mewawancara para nelayan ikan. Dan perhatikan keadaan kapalnya.

    Akan lebih berguna kalau penelitian Anda itu berupa hal-hal yang dapat memberikan usaha dalam hal seperti, bagaimana lebih banyak menangkap ikan, bagaimana keselamatan setiap nelayan dilautan lepas apakah ada alat-alat komunikasi radio dengan darat atau antara kapal-kapal nelayan dilaut.

    Juga diteliti apakah sampai tidak kepada para nelayan keterangan dari LAPAN mengenai pemakaian satelit untuk mengetahui adanya kumpulan ikan didaerah Pelabuhan Ratu ?
    Bagaiman caranya agar keterangan ini dapat sampai dengan mudah dan murah kepada setiap nelayan didaerah itu.

    Bagaimana akan pemakaian mesin, apakah lebih praktis dan murah pengoperasiannya kalau kapal itu dilengkapi motor tempel atau dipasang motor diesel.

    Bagaimana kalau dapat diusahakan Tenaga Listrik diatas kapal untuk keperluan komunikasi atau mungkin pemakain peti atau kamar es untuk ikan-ikan yang ditangkap.

    Bagaimana keadaan fisik kapal-kapalnya, apakah kayunya memakai bahan kimia agar tahan lama ( plastic coating, umpamanya).

    Bagaimana tali temali serta bahan pukat apakah masih memakai bahan alam ataukah sudah diganti dengan tali-tali dari bahan plastik ?

    Apakah pemakaian “pulley” sudah merata dan apakah pemakaian sudah dengan tenaga listrik ( genset) atau masih ditarik dengan tenaga manusia?

    Bagaimana dengan ikan yang ditimbun didarat, cara lelang atau dijual sendiri?

    Apakah ada koperasi yang mengatur penjualan ikan yang ditangkap.?
    Bagaimana dan berapa penghasilan nelayan dibandingkan dengan harga jual kepada umum.?

    Apakah sudah ada usaha dalam hal menanggulangi agar jangan sampai para tengkulak saja yang mendapatkan keuntungan besar.

    Selamat bekerja.

    Salam,
    Pak Joe

  8. bro says

    saya dari plotek kapal akan berusaha untuk mengankat lagi kapal kayu yang sekarang sudah di lupakan karena banyak yang brahli fungsi ke kapal baja atau yang lain…. dalam hal ini saya pada saat membuat tugas akhir saya akan memakai judul yang diantara menjelaskan tentang kapal kayu….

  9. ade says

    Thx infonya..

    Sangat bermanfaat..



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

*