Skip to content


JSS atau HSF

JSS atau HSF.

JSS = Jembatan Selat Sunda
HSF = High Speed Ferry

Menurut Berita Antara 14 Aug. 2009, ongkos pembangunan JSS akan memakan ongkos sejumlah Rp.100 Trilyun.
Atau sama dengan sekitar 10 Billions USD.

Menurut berita yang sama, pembangunan JSS diperlukan mengingat sekarang ini tercatat 3500 kendaraan, 35.000 orang, 20 juta ton batubara yang melewati kedua pelabuhan. Pelabuhan Merak di Banten dan Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Kalau ada ganguan di laut, antrean kendaraan dapat mencapai 10 kilometer.

Dia mengatakan bahwa 60 persen ekspor nasional berasal dari Sumatra. 40 % gula berasal dari Lampung, dan kalau ditambah dengan Jambi dan Palembang sudah mencapai 50 percent. Demikian Antara memberitakan.

Menurutnya, masih diperlukan study lebih dalam lagi untuk menentukan struktur terbaik dari jembatan terpanjang didunia karena kalau kalau jadi dibangun memiliki panjang lebih dari 30 km.
Dalam studi lebih lanjut masih harus dilihat gempa dikawasan itu, harus dipertimbangkan adanya patahan yang memang ada kemudian juga Gunung Krakatau yang masih aktip. Potensi gempa itu nantinya untuk melihat kekuatan struktur yang akan dibangun. Semuanya sebenarnya dapat diukur sebelum ditawarkan kepada investor yang berminat mengerjakannya.
============================ Antara Aug 14,2009==========================

Kalau kita kesampingkan “kebanggaan” mempunyai Jembatan Gantung yang terpanjang didunia dan juga “keinginan” nama dicantumkan dalam sejarah bangsa kita, mari kita lihat bila dana sejumlah Rp. 100 trilyun atau $ 10. billions itu kalau dimanfaatkan ke sektor pembangunan lain. Satu sektor pembangunan yang tak akan tercatat sebagai yang “ter……” di dunia dan nama pencetus idea tak akan tercatat dalam sejarah bangsa.

Karena situs ini adalah dalam dunia ke Maritiman Nasional, kita coba untuk memperbaiki usaha Ferry dari Merak ke Bauheni dimana sekarang sudah berjalan.

Kita mulai dengan mengoperasikan Kapal Ferry dengan kecepatan tinggi ( 30 knots), yang menghubungkan kedua pelabuhan ini.
Kapal Ferry dengan ukuran : L = 331 feet; Beam = 87 Ft; Draft 14 ft; dispalacement 2110 tons; range = 1240 nautical miles on 33 knots speed; Engine 4 x Caterpillar each 7200 KW at1050 rpm. passenger satu batalyon Marinir ( 976 prajurit) plus perlengkapannya serta 100 Humvees dan 20 LAV (Landing Assault Vehicles). tangki bbm : 160.000 liters atau tangki bbm jarakjauh: 240.000 liters.
Dengan kecepatan rata-rata 25 knot saja, perjalanan Merak-Bauheni dapat ditempuh dalam wakt kurang lebih 2 jam.
Tempat duduk dengan kursi seperti di pesawat dapat dipasang sampai 1200 kursi. Lounge dan cafeteria ditiadakan.

3500 kendaraan dapat diangkut dalam waktu 30 jam. Kalau dua Ferry diperasikan dalam waktu satu hari dapat terangkut semua.
Demikian juga penumpang yang sejumlah 35.000 orang dapat diseberangkan dalam waktu satu hari oleh dua kapal Ferry dengan kecepatan 25 knots perjam. Satu Kapal Ferry jenis ini harganya antara $50 sampai $65 Juta USD. Jadi dua kapal Ferry hanya dengan harga kurang lebih 150 Juta USD. Taroklah 100 Juta USD untuk perluasan serta pembangunan dermaga Ferry di kedua pelabuhan ini. Baru berjumlah 250 Juta USD. Kita keluarkan 100 Juta USD lain untuk pembanguan pelabuhan barang-barang ekspor. Dengan dermaga dan kedalaman yang cukup dalam untuk kapal-kapal “Ocean Going vessels” merapat, dengan tonnage diatas 15.000 tons bobot mati. Kapal-kapal break bulk atau kapal peti kemas feeders.
50 juta USD untuk pembangunan pelabuhan batubara curah. 20 Juta USD untuk pembelian kapal bulk carrier pengangkut batubara curah dengan umur 5 tahun, dapat membeli kira-kira 10 kapal dari 1000- 1500 tons. 20 juta tons batubara kalau diangkut dengan trcuk melewati JSS, suatu hal yang sama sekali tidak realistis.
Total jenderal 420 Juta USD, dibulatkan menjadi 450 Juta USD.  Dari 10 Billions USD baru terpakai 450 Juta USD, masih banyak sisa.

Mumpung ada dananya, kita beli 3 kapal HSF dengan kecepatan 33 knots, dengan kapasitas mengangkut  penumpang 1000 orang per Ferry dan kendaraan trailers melayari jalur “ekonomi pemerataan”, yaitu : Belawan- Tg.Priok- Tg.Perak- Makassar – Ambon – Jayapura.p.p.  Dengan jadwal tetap, seminggu dua kali pelayaran.
3 x 70 Juta USD sama dengan 210 Juta USD. Kemudian kita kucurkan dana sejumlah 40 Juta USD untuk meng-‘Up-grade” dermaga Ferry dipelabuhan-pelabuhan tersebut diatas. Belum juga mencapai angka satu billion. 300 Juta untuk membeli Kapal Ferry ukuran kecil dan kapal break bulk umur 4 – 5 tahun ukuran 500 tons dan 1000 tons ( kapal jenis break bulk ini dapat dibeli dengan harga dibawah satu juta satu kapal), dengan kecepatan 15 – 18 knots dengan kedalaman kurang dari 3 meter (dengan muatan sarat) untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan kecil dan pelabuhan-pelabuhan di Sungai-sungai.

Dengan investasi 1 billion USD, dunia pelayaran Nasional akan menjadi kebanggaan Bangsa. Dan rakyat dipulau-pulau kecil akan ikut mencicipi “kebanggaan” ini dengan naiknya taraf hidup mereka. Paling tidak sembako tersedia.

Kalau pemimpin kita mendalami arti dari Indomaritimnomics, yang dibangun bukan proyek mercua suar seperti JSS ini, bangunlah mercu-mercu suar di pulau-pulau terpencil, terutama dipulau-pulau pinggiran wilayah NKRI. Disamping sebagai pandu kapal-kapal yang berlayar, juga sebagai “mata” dalam usaha pertahanan Nasional. Setiap Mercu Suar dilengkapi dengan teropong electronic serta komunikasi via satelit. Ini dapat terlaksana karena masih ada dana sisa dari “impian” JSS sebesar 9 Billions USD.
Rupanya Tsunami yang menimpa Aceh serta gempa bumi menggoyang Tasikmalaya minggu yang lalu dilupakan !

SInggih Nata

Posted in Jasa Penyeberangan Sungai dan Laut, Teknologi Bangunan Lepas Pantai, Teknologi Maritim.

Tagged with , , , .


2 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. hendrapratama says

    Assalam,
    terimakasih atas Website IMC ini yang sangat membangkitkan rasa kemaritiman saya.
    Setelah membaca artikel Jembatan Selat Sunda dengan perbandingan pengembangan Industri Perkapalan, sangatlah tidak masuk akal jika Indonesia memaksakan diri untuk membuat Jembatan tersebut namun potensi yang ada didepan mata dilupakan, yaitu Industri Kelautan.
    Oleh karena itu, mulai sekarang kita harus kembangkan wacana/kampanye ‘Industri Kelautan’ agar para pemengang kuasa mampu melihat potensi, peluang dan langkah2 yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan Industri Kelautan, dengan poros utama Industri Perkapalan. Bisa dengan menulis dikolom Surat Pembaca koran lokal/nasional, ataupun opini2 di TV lokal/nasional.
    Saya lihat Malaysia sering mengadakan training2 pembuatan kapal2 kecil dari Fiberglass, mungkin Industri besar dan pendidikan kelautan Indonesia bisa memulainya, namun jangan hanya dikota2 besar saja pelaksanaan trainingnya.

    Wassalam,
    Hendra Pratama
    Serang, Banten.

  2. ade says

    Website IMC ini yang sangat membangkitkan rasa kemaritiman saya.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.