Skip to content


Dampak dari Pembuangan CO2 ke Udara dari Kapal-Kapal Peti Kemas Raksasa

Dalam artikel Pencemaran Lingkungan di Laut yang ditulis oleh Singgih Nata, disebutkan bahwa “pengotoran Udara” yang disebabkan oleh kapal-kapal Peti Kemas Raksasa seperti Emma Maersk ini sama dengan pengotoran udara dari jumlah 50 juta kendaraan per tahunnya.
Dikabarkan bahwa dalam tahun 2013 mendatang akan mulai dioperasikan kapal-kapal peti kemas raksasa yang lebih besar daya angkutnya dari Emma Maersk. Kapal-kapal raksasa yang baru ini dinamai “Triple – E” Class. Direncanakan akan dibangun sejumlah 30 kapal dalam tahun-tahun berikutnya.

Bila kapal-kapal “Triple-E” Class mulai dioperasikan berarti akan ada penambahan baru dalam pengotorn udara 30 kali lipat. Kita ambil saja bahwaa kapal “Triple-E” ini bermesin induk hampir sama dengan mesin induk Emma Maersk.

Route dari kapal-kapal petikemas raksasa ini ialah dari Cina melalui Laut Cina Selatan, lewat Selat Sunda, memotong Samudra Hindia tentunya tidak jauh dari Sri Langka menuju ke Suez Canal, lautan Mediterranean, Samudra Atlantic. Route kapal-kapal peti kemas raksasa ini boleh dikatakan tidak jauh dari pantai-pantai negara dunia ketiga. Dikabarkan bahwa “pengotoran udara” yang disebabkan oleh pembuangan CO2 keudara menyebabkan penyakit “Cancer-Asthma”.
Ini akan menjadi persoalan besar bagi negara-negara dunia ketiga untuk usaha-usaha pencegahan penyakit ini berjangkit diantara penduduknya, tentunya teruitama penduduknya yang bermukim di pantai-pantai.
Tentunya yang dipersoalkan adalah dananya. Padahal negara-negara berkembang ini dana maupun tenaga dan keahliannya yang mereka punya masih diperlukan untuk menaggulangi pencegahan penyakit-penyakit tropisch lainnya yang sudah ada sekarang ini. Dengan “ulah tingkah negara industri dalam memajukaan perdagangannya” yaitu dengan membangun kapal-kapal raksasa, juga mereka harus bertanggung jawab akan akibat dari “kemajuan” dunia perkapalannya. Dampak berupa penyakit Cancer- Asthma ini, seharusnya mereka harus ikut menanggung dalam mengatasinya.. Mungkin dengan pendanaan, atau pengiriman tenaga kesehatan dan obat-obatan ke negara-negara berkembang yang bersangkutan. Usaha ini harus dipikirkan jauh sebelumnya.

Pemerintah Indonesia sewajarnya harus memulai dalam menggalang kekuatan dari negara-negara berkembang untuk mencari jalan keluarnya. Daerah=daerah pesisir sepanjang Laut Cina Selatan, Selat Sunda sampai ke Samudra Hindia akan merasakan dampak dari pengotoran udara oleh kapal-kapal peti kemas raksasa yang dipelopori oleh Maersk Line ini. Wajar kalau negara-negara Asean mulai buka suara. Setidka-tidaknya mengusulkan agar Badan Dunia (PBB) untuk melakukan riset yang mendalam akan besarnya dampak dari pengotoran udara oleh kapal-kapal peti kemas raksasa ini. Untuk generasi sekarang dan generasi-generasi penerus.

Sudah waktunya Pemerintah Indonesia untuk memulai langkah-langkah yang diperlukan dalam usaha-usaha memberi perlindungan kepada warganegaranya dari dampak ulah tingkah negara industri dalam mencari keuntungan yang sebesar-besarnya bagi Industri Pelayaran Samudra mereka.

Posted in Lingkungan Maritim, Pencemaran Lingkungan Maritim, Regulasi Maritim.

Tagged with , , , , .


4 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. pico says

    menarik!
    Jadi penasaran… apakah di departemen luar negeri, sudah ada direktorat yang khusus mengurusi masalah diplomasi maritim?

  2. Joe Ragan says

    Kalau tidak salah ada Atase Perhubungan di beberapa Kedutaan Besar R.I. dinegara-negara tertentu. Tugasnya antara lain ikut mengamati dalam usaha-usaha “Conference” dalam menetukan Freignht Rate dalam jalur-jalur perdangan Indonesia dan negara-negara lainnya di mana Perusaahaan Pelyaran Samudra Nasional menjadi anggota “Freight Rate Conference” itu. Tentunya juga melayani dalam mengurus kepentingan Perusahaan Samudra Nasional dan kepentingan anak buah kapal.

    Khusus mengenai pwersoalan “pengotoran Udara”, sewajarnaya Kemenlu harus memulai pendekatan dengan negara-negara Asean untuk memikirkan jalan agar “persoalan” ini menjadi perhatian PBB. DItindak lanjut dengan menggalang suara dari negara-negara lain sepanjang route pelayaran kapal peti kemas raksasa ini berlayar, agar menjadi agenda di PBB untuk dibahas. Ini adalah “persoalan” dunia, tidak terisolir di bagian tertentu saja. Malah selain ada dampak kepada kesehatan penduduk yang Wbermukim di pantai-pantai, juga besar dampaknya kepersoalan :Global Warming”.Waktu pelaran dalam menyebrang Samudra Hindia dari Selat Sunda menuju ke Suez Canal, akan ada dampaknya kepada Kutub Selatan, walau bagaimana kecilnyapun. Kenaikam suhu udara di Antartica akan membawa dampak langsung ke pantai Barat dan Selatan Nusantara. Mungkin akan ada dampaknya akan mata pencaharian nelayan-nelayan. Ikan menjadi berkurang umpamanya, karena kenaikan suhu air laut, plankton berkurang, ikan-ikan kecil jadi berkurang karenanya. Ikan kecil berkurang akan membawa pengaruh akan ikan-ikan yang lebih besar dstnya.
    Semoga tulisan ini terbaca oleh Bapak Kusumah Atmadja untuk memulai “melobi” Pemerintah. (Bpk Kusumah Atmadja pernah menulis di IMC soal pertemuan di Menado)

    JR

  3. Joe Ragan says

    Keterangan tambahan.
    Mesin induk Kapal Peti Kemas Raksasa yang ber-cylinder 14 itu membakar bbm sebanyak 16 ton perjam. 380 ton per hari. Perjalanan dari Cina ke Eropah kurang lebih 20 hari berarti sejumlah 20 x 380 ton = 7600 ton. Mesin baru ini mempunyai efficient pembakaran yang tinggi. Dengan kata lain sebahagian besar dari 7800 ton itu dibung ke angkasa sebagai asap, sebahagian kecil yang mengendap sebagai minyak didasar mesin.
    Pantai Barat Provinsi Banten dengan Villa-villa ditepi pantai, apakah aman akan ancaman pengotoran udara ini ? Membahayakan masa depan industri tourisme setempat??
    JR

  4. pico says

    terima kasih penjelasanya bung joe..
    mudah-mudahan banyak yang baca artikel ini.. karena awareness masyarakat terhadap masalah ini sepertinya masih sangat rendah..



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.