Skip to content


Global Warming Ancam Laut Indonesia


Awas, climate change mengancam. Itulah yang beberapa tahun belakangan ini disuarakan banyak orang di dunia. Kenapa? Karena climate change atau perubahan iklim ternyata telah memberikan turunan masalah yang cukup besar dan beragam. Ini semua sebagai akibat dari pemanasan global (global warming) yang tak terelakkan.

Perubahan iklim sendiri merupakan komposisi kimiawi dari atmosfer yang mengalami perubahan sejalan dengan penambahan gas rumah kaca, khususnya karbon dioksida, metan dan asam nitrat, di mana kemampuan menyaring panas dari gas tersebut tidak berfungsi. Penambahan tersebut telah meningkatkan kemampuan menjaring panas pada atmosfer bumi.

Berdasarkan penelitian, perubahan iklim  telah berdampak pada meningkatnya angka emisi gas secara global, peningkatan temperatur, dan juga terjadinya peningkatan permukaan laut. Itu semua merupakan indikasi bahwa perubahan iklim lebih cepat menyambangi kita.

Perubahan iklim terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang cukup panjang, antara 50-100 tahun. Meskipun perlahan, dampaknya sebagaian besar permukaan bumi menjadi panas. Berikut merupakan data-data dari IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change) yang menggambarkan kondisi perubahan iklim yang terjadi saat ini bahwa telah terjadi kenaikan suhu rata-rata sebesar 0,76 derajat Celcius antara periode 1850 – 2005, 11 dari 12 tahun terakhir (1995-2006) merupakan tahun-tahun dengan rata-rata suhu terpanas sejak dilakukan pengukuran suhu pertama kali pada tahun 1850. Kenaikan permukaan air laut global rata-rata sebesar 1,8 mm per tahun antara periode 1961 – 2003. serta telah terjadi kekeringan yang lebih intensif pada wilayah yang lebih luas sejak tahun 1970an, terutama di daerah tropis dan sub-tropis.

Karena naiknya suhu bumi bisa mencairkan es di daerah kutub. Menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), dalam 100 tahun terakhir telah terjadi peningkatan air laut setinggi 10-25 cm. Sementara menurut laporan Greenpeace, diperkirakan pada tahun 2100 mendatang akan terjadi peningkatan air laut setinggi 19-95 cm. Peningkatan air laut setinggi 1 meter akan mengakibatkan hilangnya pulau atau daratan di dunia sebagai contoh hilangnya daratan Mesir 1 persen, Belanda 6 persen, Bangladesh 17,5 persen dan 80 persen atol di kepulauan Marshall serta tenggelamnya pulau-pulau di, Fiji, Samoa, Vanutu, Jepang, Filipina, serta Indonesia. Hal ini berarti puluhan juta orang yang hidup di pesisir pantai harus mengungsi ke daerah yang lebih tinggi.

Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2009), daerah pesisir dan pulau kecil yang akan tenggelam 100 tahun lagi dari sekarang meliputi daerah seluas 475.905 hektar atau rata-rata kehilangan lahan/ pulau sebesar 4,76 hektar per tahun.

Perubahan iklim akan membawa bencana bagi 41 juta orang Indonesia yang tinggal di daerah pesisir dengan ketinggian di bawah 10 meter. Tenggelamnya tambak ikan dan udang di Karawang dan Subang telah mengakibatkan kerugian sebesar setengah juta dollar Amerika. Kenaikan muka air laut telah menenggelamkan 26 ribu kolam ikan di daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Suhu laut yang meningkat telah merusak terumbu karang di Bali Barat dan Kepulauan Pari pada kejadian El-Nino tahun 1997-1998.

Perubahan iklim yang hingga kini belum bisa teratasi dengan baik dinilai dapat mengancam keberadaan pulau-pulau di Indonesia. Saat ini saja, jumlah pulau telah banyak berkurang dari 17.504 pulau menjadi 17.480 pulau. Ini artinya, sudah 24 pulau hilang dari permukaan bumi dan jika tidak segera diantisipasi, tidak menutup kemungkinan, pada tahun 2030, Indonesia akan kembali kehilangan sekitar 2.000 pulau lagi.

Salah satu oprganisme laut yang sangat rentan terhadap perubahan iklim adalah hewan karang yang menyusun ekosisten terumbu karang. Terumbu karang merupakan suatu ekosistem di laut yang memiliki peran besar bagi kehidupan organisme laut bahwan kehidupan manusia.  Perubahan iklim global juga akan memberikan dampak langsung terhadap keberadaan ekosistem ini. Negara-negara kepulauan harus segera menyusun strategi adaptasi terhadap perubahan iklim global. Perubahan iklim yang memacu terjadinya pemanasan global (global warming) memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup biota laut.

Telah terjadi banyak kasus pemutihan karang (coral bleaching). Kasus ini terjadi di seluruh dunia termasuk Indonesia, apalagi Indonesia merupakan pusat keanekaragaman spesies karang. Pemutihan karang ini dipacu oleh naiknya suhu air laut, sehingga organisme zooxantella yang hidup bersimbiosis dengan jaringan hewan karang keluar sehingga karang mengalami kematian. Selain itu, tingginya kandungan karbon dioksida di udara akan memicu peruhahan derajat keasaman (pH) air laut, sehingga mengganggu metabolisme hewan karang sehingga pertumbuhannya terganggu.

Kerusakan karang yang meluas akibat peningkatan suhu air laut akan berimplikasi ke kehidupan organisme lain yang hidup berinteraksi dengan terumbu karang, termasuk ikan yang merupakan komoditas ekonomis bagi manusia.

Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh semua stake holder dalam rangka adapatasi terhadap perubahan iklim global diantaranya adalah melakukan lobi perjanjian internasional terkait dengan emisi gas yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas industri, harus ada kesepakatan untuk bersama-sama menurunkan tingkat emisi gas ini. Disamping itu kebijakan pemerintah lokal juga harus lebih memfokuskan terhadap proses adaptasi ini, misalnya dengan membentuk Marine Protected Area (MPA) dan Coastal Zone Management serta kemitraan dan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah bahkan antar daerah.

 

Penulis:

Dr.Y. Paonganan, S.SI.,M.Si.

Direktur Eksekutif

Indonesia Maritime Institute

 

Posted in Konservasi Lingkungan Maritim, Lingkungan Maritim, Pendidikan Maritim, Penelitian Maritim, Publikasi Maritim.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.