Skip to content


Kasus Pemberdayaan Pembangunan Kapal Tradisional

Sebuah harapan besar terhadap bangkitnya kemaritiman Indonesia muncul ketika seorang calon Presiden RI mencetuskan gagasan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dalam Debat Terbuka Calon Presiden RI 2014-2015. Joko Widodo atau yang sering dipanggil Jokowi tersebut sekarang sudah sah menjadi Presiden terpilih setelah memenangkan Pemilihan Presiden bulan Mei lalu, sehingga harapan besar tersebut semakin tumbuh di kalangan pelaku, penstudi dan pemerhati kemaritiman Indonesia.

Namun penjelasan terhadap gagasan ‘Poros Maritim Dunia’ tersebut tidaklah tersedia luas sehingga masyarakat masih harus menerka-nerka seperti apakah konsep besar itu dan bagaimana mewujudkannya. Beberapa istilah sempat diungkapkan Jokowi terkait konsep besar tersebut, diantaranya: Tol Laut, Hub Port dan Drone. Diantara ketiga tersebut, konsep Tol Laut-lah yang sering dijelaskan Jokowi beberapa kali dalam berbagai kesempatan, sebagai beberapa kapal besar yang mondar-mandir laut nusantara mengangkut berbagai komoditas penting sehingga mengurangi tingkat disparitas harga komoditas di berbagai wilayah Indonesia.

Konsep pembangunan apapun yang akan diterapkan, tidaklah mungkin terlepas dari manusia dan budayanya karena pada akhirnya pelaksanaan konsep tersebut akan sangat tergantung  pada penerimaan masyarakat sebagai stakeholder utamanya. Berikut ini merupakan sebagian kutipan dari makalah “Perahu-Perahu Tradisional Nusantara: Suatu Tinjauan Perkapalan dan Pelayaran” oleh Horst H. Liebner, seorang penggiat Arkeologi Maritim yang melihat bahwa pentingnya pemahaman budaya dalam konsep pemberdayaan sebuah industri tradisional.

 

Masa Depan Perkapalan dan Pelayaran Tradisional

Sebagaimana kita ketahui, tradisi yang berfaedah bukanlah suatu keadaan yang statis. Dalam arti sebenarnya tradisi adalah seutas tali pewarisan yang tidak pernah putus, yang bahkan oleh ketidak-putusan itu mampu untuk berkembang terus – jadi, suatu ‘ketradisian hidup’ yang didasarkan atas pengetahuan dan filsafat yang diturunkan dari generasi ke generasi akan mampu untuk menyertai perkembangan zaman berkat dasarnya yang semakin kuat itu: Dengan menghormati dan menjaga nilai-nilai tradisional kita dapat menyambut yang baru dengan penuh kearifan. Dalam kerangka acuan suatu seminar mengenai pemgembangan masyarakat bahari yang pernah saya ikuti dilontarkan, bahwa ‘‘teknostruktur adalah bagian atau buah dari budaya masyarakat, [… dan …] agar mereka mampu mengembangkan teknologi yang dibutuhkan, […] pengembangan teknologi perlu didukung oleh budaya masyarakat yang sadar atau melek teknologi’’. Dalam pendahuluan kerangka acuan acara itu disebutkan pula, bahwa orang asing sudah pada awal abad silam heran dan kagum terhadap pengetahuan para pelaut Nusantara – dan mengingat keterbatasan peralatan, modal dan sumber yang dimiliki masyarakat desa, seharusnya kita semua ikut kagum dan heran melihat keberhasilan mereka dalam penghidupan sehari-harinya: Ternyata masyarakat kita memiliki teknologi, bahkan yang cukup canggih dan sangat beradaptasi pada situasi dan kondisi mereka. Alhasil, membicarakan pengembangan IPTEK buat masyarakat bahari berarti membahas lebih dahulu teknologi yang digunakan masyarakat, dan mengembangkan teknostruktur masyarakat itu artinya melihat budaya dan kebudayaan yang melatarbelakangi, baik pengetahuan teknik yang dimiliki maupun struktur sosial dan kultural yang merupakan landasan utama dalam penerapan teknologi, baik yang bersifat tradisional maupun yang modern. ‘Kebudayaan yang melatarbelakangi’ hal-hal tersebut secara paling dasar berarti suatu kumpulan konsep, gagasan, cita-cita dan citra-citra yang dianut suatu masyarakat – dan dengan ini, kita dituntut untuk membahas secara mendalam pola-pola pikiran yang dipergunakan dan diikuti masyarakat dalam pendekatannya terhadap keseluruhan kebudayaanya.

Selain itu, terhadap realitas kehidupan masyarakat bukanlah suatu pendekatan makrostruktur yang dirumuskan di luar lingkungan mereka akan menjamin sustainable development, akan tetapi hanya suatu pendekatan yang berfokus pada kasus-kasus nyatalah mampu menghasilkan pengembangan yang berkelanjutan – dan pasti bukanlah percobaan-percobaan teknologi canggih-canggih yang dari sisi pengadaannya maupun penerapannya jauh dari jangkauan seorang kampung, tetapi hanya embedded technology, teknologi yang berfokus kepada serta terintegrasi dalam yang dibuat dan digunakan oleh masyarakat dapat menjadi strategi-strategi yang ‘‘mampu menciptakan kondisi yang kondusif bagi pengembangan teknologi secara mandiri’’.

Untuk menggambarkan hal ini dengan lebih konkrit, perkenankanlah saya untuk mengambil salah satu dari sekian banyak contoh gagalnya penerapan teknologi modern di dalam lingkungan tradisional. Beberapa tahun yang silam diadakan suatu proyek percobaan pembuatan perahu secara barat di sekian banyak desa di Sulawesi Selatan, di mana pembuatan lambung perahu dimulai dengan memasang dahulu gading-gadingnya yang berikutnya dilapisi dengan papan. Teknologi ini bertentangan secara diametral dengan tradisi teknik lokal yang memulai dengan pemasangan papan dan berikutnya ‘mengisi’ lambung perahu yang dihasilkan dengan gading-gading. Selain daripada itu, untuk menerapkan teknologi barat itu dituntut adanya gambar konstruksi berdimensi tiga yang memastikan ukuran gading-gading yang diperlukan, sedangkan pada teknik indigen Sulawesi Selatan bentuk lambung perahu ditentukan melalui tatanan, ‘potongannya’: Sebagaimana diterangkan dalam bab 3.1, dengan istilah-istilah akan rupa lambung serta suatu peristilahan sangat rumit yang menandai posisi dan bentuk masing-masing papan dalam konstruksi badan perahu seorang pengrajin tradisional dapat menghasilkan puluhan jenis kapal yang berbeda-beda tanpa gambar konstruksi. Di salah satu desa di daerah Mandar kami dengan heran melihat, bahwa gading-gading dari proyek itu sampai sekarang masih disimpan di depan rumah seorang pengrajin perahu – ternyata baik para pengrajin tradisional maupun para pembimbing dari Pemda dan perguruan tinggi tak mampu menyelesaikan proyek ini di situ, sedangkan baik di pantai kampung itu maupun di lokasi-lokasi proyek lainnya selama ini dibangun puluhan perahu baru dengan memakai teknik tradisional saja. Artinya, tujuan proyek yang cukup tinggi biayanya itu, yakni memasyarakatkan suatu teknologi baru, tak tercapai sebab kelompok sasaran dengan lebih gampang, lebih cepat dan lebih pasti dapat berhasil dengan memakai teknik indigen mereka.

Pada contoh ini dapat kita saksikan pula sesuatu yang lain: Agar masyarakat menjadi mampu mengembangkan dan memanfaatkan IPTEK secara mandiri memang perlu pengembangan SDM (dalam hal tersebut di atas misalnya ketrampilan membaca gambaran tiga dimensi) – akan tetapi, yang mungkin lebih penting bukan SDM orang kampung, tetapi SDM para penyelenggara proyek-proyek pembangunan yang demikian. Lagi dari contoh yang tadi itu: Sampai sekarang sebagian besar dari para penentu keputusan di pelbagai tingkat pemerintahan, organsiasi dan lembaga pengembangan maupun jajaran akademisi belum mengetahui adanya rumus-rumus pembuatan tipe-tipe perahu lokal yang dikonsepkan dan direalisasikan melalui suatu kesatuan dari upacara-upacara dalam proses membangunkannya dan peristilahan akan bentuk dan posisi masing-masing papan dalam konstruksinya itu, sehingga para penentu proyek-proyek pengembangan itu seringkali cenderung beranggapan, bahwa masyarakat tradisional tak memiliki teknologi yang sederajat dengan teknologi modern yang ingin diajukan itu. Akan tetapi, ternyata para pengrajin tradisional itu dengan cara, pendekatan dan konsep-konsep indigen mereka bahkan sempat memecahkan masalah-masalah teknis yang cukup rumit secara mandiri – contoh terbaik adalah keberhasilan para pengrajin perahu Sulawesi Selatan dalam mengubah jenis-jenis lambung perahu layar tradisional sehingga mampu melengkapinya dengan mesin dalam, suatu proses yang terakhirnya menghasilkan perahu-perahu PLM berukuran ratusan ton yang sampai kini merupakan tulang rusuk perdagangan interinsuler Nusantara.

Yang menjadi masalahnya di sini: Para pengrajin tradisional dengan alat-alat sederhana selama ini sempat menghasilkan perahu-perahu yang secara nyata berlayar, mencari ikan dan mengangkut muatan – sedangkan, misalnya, mahasiswa Jur. Perkapalan UNHAS pada suatu acara pada tahun 1999 bahkan tak mampu membuat pelampung yang dapat melampung. Guna menggambarkan ‘nilai’ pengetahuan tradisional ini dengan lebih nyata di ruangan kuliah saya selalu menyebutkan contoh seorang lolosan akademi pelayaran yang disuruh melaut dengan perahu tradisional: Apakah ia akan kembali besok? Jadi, siapa lebih trampil: Seorang nelayan kampung yang bukan hanya kembali, tetapi membawa ikan pula, atau si nakhoda baru itu?

Masa depan pembuatan perahu dan pelayaran tradisional Nusantara ditentukan oleh beberapa masalah yang semakin mendesak untuk dipecahkan. Soal utama bagi para pengrajin perahu adalah kekurangan kayu berkwalitas: Masalah itu dapat dipecahkan dengan beberapa teknologi modern seperti laminasi lambung kayu dengan bahan serat kaca. Menurut pemilik sebuah perahu katamaran modern yang sedang dibangun di Makassar dengan suatu kombinasi teknologi tradisional dengan teknik laminasi, biaya pembuatan lambung perahu itu adalah 10-15 kali (!) lebih murah daripada di Eropa – bila pengrajin perahu tradisional dilibatkan dan dibiarkan membangun lambung itu sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan mereka, yakni dengan teknik planks first. Dengan teknologi itu terdapat suatu kemungkinan untuk menciptakan lambung-lambung perahu yang kuat, ringan, berdaya tahan dan bernilai jual tinggi tanpa menguras habis hutan-hutan Nusantara. Pengembangan suatu sistem teknologi yang demikian harus didasarkan atas sebuah perpaduan pengetahuan dan kearifan indigen dengan teknik-teknik canggih yang sekaligus bersifat ‘akar rumput’ dan ‘paling mutakhir’: Tipe-tipe perahu apa yang paling prospektif dan efektif, baik bagi sektor pelayaran rakyat maupun sebagai bahan ekspor? Bagaimana, misalnya, dapat jenis-jenis kayu tropis dikeringkan di sebuah kampung sampai bisa disambungkan dengan lem epoxyd – atau, apakah epoxydnya bisa dikelola sehingga tak perlu kayu yang kering? Apakah sistem-sistem tradisional pengelolaan hutan dapat dikombinasikan dengan keperluan itu?

Bagi pelaut dan pelayar masalahnya adalah apakah pengetahuan tradisional mereka bisa mendapatkan pengakuan resmi – menurut seorang instruktur pada salah satu akademi pelayaran di Sulawesi, bahkan merekalah, para pelaut yang seumur-sehidup berlayar dengan perahu-perahu tradisional, dengan jauh lebih cepat lulus dari tes-tes ijazah dasar pelayaran internasional daripada lulusan-lulusan sekolah-sekolah jurusan maritim. Pelaut tradisional dari sekian banyak desa di Sulawesi dan Madura sejak beberapa dekade dipekerjakan di seluruh Asia Tenggara (dan beberapa bahkan di Eropa dan Amerika) sebagai awak dan juragang di atas kapal-kapal modern, dan saya melihat sekian banyak nakhoda tua yang dalam beberapa hari saja dapat memahami dan menggunakan alat-alat navigasi canggih seperti radar dan GPS, dan memadukannya dengan pengetahuan tradisional mereka. Akan tetapi – bila mereka, para pelayar sejati itu tak diberikan pengakuan resminya, nasib bukan hanya mereka itu saja, tetapi pula ketrampilan dan pengetahun mereka yang selama ini terbukti ketangguhannya adalah kemusnahan.

Pariwisata bahari –dalam hal ini, menyediakan perahu-perahu tradisional sebagai sarana liburan– sedang menjadi suatu bidang
tourisme yang semakin digemari oleh para pelancong asal dalam dan luar negeri – akan tetapi, jika para pelaut dan perahu tradisional sudah tidak tradisional lagi, masa depannya apa? Jelas: Hanya dengan semakin menghormati dan menjaga nilai-nilai dan kearifan tradisional ini dapat kita capai suatu masa depan yang lebih baik bagi kita semua.

** Tulisan lengkap makalah Horst H Liebner ini dapat dilihat di academia.edu

Sandeq Race

Sandeq Race

Posted in Industri Galangan Kapal, Teknologi Perkapalan.

Tagged with , , , .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.